Kesehatan Bersama Blog Benarkah Sosiopat Adalah Saudara dari Psikopat?

Benarkah Sosiopat Adalah Saudara dari Psikopat?

Selama ini mungkin kamu lebih familiar dengan istilah psikopat, nah ada gangguan kepribadian yang bunyinya terlihat mirip dengan psikopat, yaitu sosiopat. Tapi, kamu tidak bisa menyamakan keduanya karena mereka memiliki perbedaan walaupun pengidapnya berperilaku tidak biasa.

Apa itu sosiopat?

Dilansir dari Hello Sehat, sosiopat adalah gangguan kepribadian yang mengacu pada perilaku dan pola pikir antisosial. Bahkan, masyarakat kerap kali menghubungkan antara antisosial ini dengan introvert. Orang dengan Antisocial Personality Disorder atau ASPD cenderung berperilaku menyimpang. Persamaannya dengan psikopat yaitu seorang sosiopat tidak segan untuk melakukan hal yang melanggar hukum dan pastinya merugikan orang lain. Namun, dalam tingkatannya, sosiopat masih berada di bawah psikopat.

Penyebab sosiopat

Penyebab utama dari terjadinya sosiopat belum diketahui, namun diduga bahwa sosiopat ini disebabkan oleh faktor keturunan dan kejadian traumatis, seperti pelecehan seksual, atau kejadian kekerasan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat. Kaum pria yang sering mengonsumsi minuman beralkohol dan menyalahgunakan obat-obatan juga berpotensi terserang sosiopat.

READ  Diagnosis dan penyebab demam yang harus di ketahui

Ciri-ciri sosiopat

Gangguan kepribadian ini biasanya menyerang remaja berusia 18 tahun ke atas, namun gejala lainnya bisa muncul ketika mereka masih anak-anak, seperti berperilaku agresif, bolos sekolah, dan perilaku tidak terpuji lainnya.

Bagaimana jika seorang sosiopat berada di tengah-tengah kita? Apakah kita dapat melacak keberadaannya dengan mengamati tingkah lakunya? Kenali ciri-ciri orang dengan sosiopat berikut ini.

1. Karismatik dan manipulatif

Jangan sampai tertipu dengan sikap positifnya karena sebenarnya mereka hanya memanipulasi kamu! Hal tersebut dia lakukan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memperhatikan dampaknya bagi orang lain.

Sumber gambar: unsplash.com

2. Egois

Orang yang egois cenderung ingin mendapatkan pujian dari orang lain dan menjadi pusat perhatian. Jika kamu familiar dengan kata narsis, maka orang egois adalah salah satu contoh orang yang fanatik dengan narsisme.

READ  Ini 3 Hal Penting dalam Merawat Lansia Agar Tetap Bahagia di Usia Senja

3. Impulsif

Impulsif di sini berarti bahwa orang yang sosiopat biasanya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Selain impulsif, biasanya mereka lebih agresif dan tempramental.

4. Rendahnya rasa empati

Sama dengan orang yang psikopat, jangan mengharapkan rasa empati dari mereka sedikit pun.

Apakah sosiopat sama dengan psikopat?

Walaupun memiliki salah satu ciri yang sama, namun perbedaan antara psikopat dan sosiopat dapat diperhatikan. Perbedaan psikopat dan sosiopat adalah sebagai berikut.

1. Psikopat lebih cenderung berhubungan dengan struktur otak, sedangkan sosiopat didominasi oleh pengalaman.

2. Psikopat lebih tenang jika dibandingkan sosiopat.

Seperti apa pengobatan untuk sosiopat?

Belum ditemukannya metode khusus untuk menangani sosiopat ini. Namun, beberapa pakar memberikan metode untuk membatasi perilaku desktruktifnya dan mengubahnya menjadi perilaku konstruktif. Jika menemukan beberapa gejala atau ciri sosiopat dalam diri kamu maupun anggota keluarga, segera konsultasikan ke dokter agar gejala tersebut tidak semakin memperparah keadaan.

READ  Berikut Pengertian Demam Reumatik yang Harus Diketahui

Dalam penanganan sosiopat adalah wajar jika menggunakan obat-obatan anti-depresan. Dan dilansir dari Alodokter, orang dengan sosiopat juga akan mendapatkan psikoterapi, terapi perilaku kognitif, dan dukungan serta perhatian dari keluarga maupun kerabat terdekat sangat dibutuhkan oleh orang yang mengidap sosiopat.

Bagaimana cara mencegah terjadinya sosiopat?

Karena sosiopat lebih disebabkan oleh kejadian traumatis maka sebisa mungkin untuk tidak menghadirkan lingkungan yang keras. Namun, sebaliknya ciptakanlah lingkungan yang damai, penuh kasih sayang, dan memberikan perhatian pada anak-anak.

Keadaan lingkungan yang damai itu dapat dimulai dan dibentuk oleh para orang tua. Dan sebisa mungkin untuk menghindari kekerasan fisik dan psikis, karena hal ini akan berdampak panjang bagi pertumbuhan si anak.