Kesehatan Bersama Blog Kenali 3 Fase Pada Gejala Demam Kuning

Kenali 3 Fase Pada Gejala Demam Kuning

 Demam kuning merupakan penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk. Asal virus demam kuning adalah berasal dari virus genus Flavivirus yang dimana virus tersebut disebarluaskan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini biasa hidup dalam lingkungan manusia dan dapat berkembang biak pada air bersih.[1] Itu adalah asal usul munculnya penyakit demam kuning ini. Munculnya virus ini diketahui setelah timbul gejala demam kuning. Maka mengetahui gejala demam kuning adalah hal yang penting jika kita ingin menjaga orang-orang yang kita cintai dari penyakit demam kuning ini. Karena bahayanya penyakit ini adalah ketika kita mengidap penyakit demam kuning ini, virus demam kuning akan merusak organ hati dan juga organ internal manusia yang lainnya. Oleh karena itu, mewaspadai gejala pada demam kuning adalah hal yang harus dilakukan. Berbeda dengan penyakit lain, gejala demam kuning terdapat 3 fase gejala yang dialami oleh penderita. Setiap fase memunculkan gejala-gejala tertentu pada penderita. Berikut penjelasan mengenai gejala demam kuning.

READ  Pengobatan yang harus dilakukan ketika demam

Menurut alodokter.com, gejala demam kuning dibagi berdasarkan fase gejala yang dialami penderita, diantaranya adalah :

1. Fase inkubasi

Fase dimana virus yang masuk dalam tubuh manusia, belum menunjukkan gejala-gejala penyakit yang muncul. Fase inkubasi ini berlangsung selama 1 sampai 3 hari setelah penderita terinfeksi virus ini.

2. Fase akut

Fase akut muncul setelah fase inkubasi terlewati. Fase akut muncul dihari ke-3 atau hari ke-4 setelah penderita terinfeksi virus ini. Pada fase akut ini, gejala yang muncul pada penderita adalah :

  1. Demam
  2. Terasa pusing
  3. Bagian mata, wajah serta lidah berwarna kemerahan
  4. Sakit pada kepala
  5. Silau saat terkena cahaya
  6. Nafsu makan menurun dan berkurang
  7. Nyeri pada otot
  8. Rasa mual dan muntah

Setelah fase akut ini berakhir, gejala-gejala diatas akan berakhir. Pada sebagian besar orang yang menderita penyakit ini, setelah melewati fase akut ini orang-orang dapat sembuh dari penyakit ini. Namun, terdapat beberapa orang juga yang justru memasuki fase selanjutnya. Yang merupakan fase serius dari gejala demam kuning ini, yaitu fase toksik yang muncul setelah 24 jam bebas gejala dari gejala sebelumnya.

READ  Benarkah Sosiopat Adalah Saudara dari Psikopat?

 

3. Fase toksik

Fase toksik muncul setelah fase akut. Fase toksik ini muncul dengan gejala demam yang lebih serius dibanding fase akut, diantaranya adalah :

  1. Bagian kulit dan sklera (bagian putih pada mata) berwarna kekuningan
  2. Denyut pada jantung melambat
  3. Nyeri pada perut
  4. Muntah, kadang disertai muntah darah
  5. Mimisan, keluar darah pada gusi, dan pendarahan pada mata
  6. Menurunnya jumlah urin dan gagal ginjal
  7. Gagal hati
  8. Menurunnya fungsi otak, yaitu delirium, kejang, hingga koma pada penderita

Diatas adalah gejala-gejala demam kuning menurut referensi alodokter.com, sedangkan menurut halodoc.com gejala demam kuning diantaranya adalah :

  1. Fase pertama (inkubasi). Pada fase ini, virus masuk ke dalam tubuh dan belum menimbulkan gejala-gejala tertentu. Fase ini berlangsung selama 1 hingga 3 hari setelah pasien terinfeksi
  2. Fase kedua (akut). Fase ini berlangsung pada hari ke 3 atau ke 4, dan menimbulkan beberapa gejala, yaitu demam, pusing, sakit kepala, silau dengan cahaya, nafsu makan yang menurun, nyeri pada otot, mual dan juga muntah. Selain itu pada mata, wajah, dan lidah berwarna kemerahan.
  3. Fase ketiga (toksik). Fase ini menunjukkan gejala demam kuning kembali kambuh, bahkan lebih serius. Gejala yang menyertai selama fase ini adalah kulit dan sklera menguning, denyut pada jantung melambat, nyeri pada perut, muntah yang terkadang disertai muntah darah, mimisan, gusi berdarah, juga pendarahan pada mata, selain itu penurunan jumlah urin atau gagal ginjal, gagal hati, penurunan fungsi otak seperti delirium, kejang, dan juga koma.
READ  5 Jenis Alat Kontrasepsi yang Hormonal untuk Keharmonisan Keluarga

 

Sumber : alodokter.com